2/19/2011

MENTAL PENGEMIS

Tergelitik membaca status salah satu teman facebook yang bunyinya : “Urusan pembuatan ktp sudah selesai, giliran Tanya berapa biayanya si petugas menjawab sebenarnya tidak di pungut biaya bu, Cuma kalau ibu mau ngasih ya nggak pa-pa bu, seikhlasnya!”…..What????

Sayapun pernah mengalami ketika saya ngirim paket dari luar negeri dengan jasa pengiriman yang siap di antar sampe dirumah tanpa di pungut biaya lagi, tapi ternyata petugas pengiriman itu juga meminta uang dengan kata-kata “seiklhasnya bu, untuk makan siang!” sambil pasang muka melas.

Ini hanya contoh kecil, dan saya yakin banyak pembaca yang mengalami hal serupa di atas. Sebenarnya ini hanya masalah sepele dan nilainyapun tidak signifikan untuk di permasalahkan, paling uang yang kita keluarkan seputar sepuluh ribuan. Tapi jika ini sudah menjadi kebiasaan, di lihat dari esensinya sungguh sangat berdampak buruk untuk kebesaran negeri ini.

Belum habis keheranan kita dengan berita gayus yang di penjara bisa menonton dengan santai sebuah pertandingan tennis bergengsi di pulau Bali, kita kembali di kaget-kagetkan lagi dengan plesiran gayus di macao, singapura dan kualalumpur. Yang mencengangkan lagi adalah kasus penukaran napi yang terjadi di bojonegoro. Dan masih banyak kasus-kasus di negeri ini yang secara mata telanjang sungguh sangat menggelikan, sangat memalukan dan sangat mengherankan. Kenapa itu semua bisa terjadi?

Peristiwa-peristiwa hukum yang menakjubkan ini menunjukkan bahwa sebenarnya selain buruknya penegakan hukum di republik ini nilai-nilai keluhuran dan kehormatan republic ini sudah tergerus dengan sifat permisif yang sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita sungguh di hadapkan dengan krisis nilai dan karakter sebuah bangsa yang besar. Hukum bisa di jual beli dengan mudahnya. Borok-borok yang kian menganga di depan mata menunjukkan bahwa republic ini jauh dari kehormatan. Orientasi kerakusan dan mental pengemis di pertontonkan secara telanjang dan tanpa malu-malu.

Pelan dan pasti bangsa ini akan hancur jika mental-mental pengemis ini semakin membudaya. Tidak akan tercapai keadilan di negeri ini jika gila harta masih menggurita di setiap lini. Yang kecil semakin tergencet sementara yang kaya mengangkang dengan pongahnya dan menggilas siapa saja yang menghalangi kerakusan dan ketamakannya.

Ayolah bung, hilangkan jauh-jauh mental-mental pengemis. Lepaskan kerakusan dan ketamakan yang menggurita.kita bangsa yang beretika! Bangun bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter. Warisi anak cucu dengan nilai-nilai kemuliaan. Jangan gadaikan kehormatan, karena kehormatan tidak akan tercapai jika mental pengemis dan kerakusan masih membudaya.