4/28/2008

MUTIARA KEHIDUPAN

MENGGALI POTENSI DIRI

Saya sedang mengupas bawang sambil menjawab pertanyaan anak saya yang pertama. Dia berumur tiga tahun setengah dan dalam masa explorasi, sehingga semua hal yang dilihat dan dirasakan selalu ditanyakan. “Ibu, buat apa sih ini?” dia bertanya sambil tangannya juga ikut mengupas bawang. “Buat bikin bumbu nak!”, jawab saya.
Anak saya kedua berumur satu setengah tahun, sedang tidur siang. Sengaja saya memasak menunggu anak ke dua tidur.
Sambil memasak pikiran saya menerawang di masa anak-anak, dan menjelang dewasa. Saya dulu seorang pribadi yang cuek dan perpikiran praktis.Dari masa anak-anak sampai saya dewasa yang namanya di dapur paling anti. Orang tua juga termasuk golongan orang tua yang tidak ambil pusing, entah saya mau membantu pekerjaan dirumah atau tidak beliau tidak pernah marah.. Hal itu berlanjut sampai saya dewasa . Yang saya lakukan saat itu belajar, kumpul dengan teman-teman dan saya juga tergabung dalam group tari kreasi baru. Sehingga waktu sering dipakai untuk latihan dan manggung. Pada waktu itu dalam pikiran saya bahwa hidup itu untuk bersenang-senang, dan ibadah pun sering terabaikan. Seiring waktu berjalan menginjak semester dua, tugas-tugas kuliah mulai menyita waktu sehingga saya jarang berkumpul dengan teman-teman lagi. Akhirnya teman-teman pun mulai menjauh dan tidak pernah menghubungi lagi. Disini saya mulai merasakan kekosongan batin dan hati mulai gundah.
Pada semester empat kehidupan saya mulai bergeser dari yang hura-hura dan cuek berubah dengan keseriusan belajar. Saya tergolong mahasiswi yang rajin dan rapi catatan kuliah sehingga banyak teman yang memanfaatkan dengan meminjam catatan. Kehidupan saya pun mulai tertata, tapi kenapa batin ini masih merasa ada yang kurang ?.
Ada satu dosen yang punya perhatian khusus dengan saya, dosen itu selalu memberi saran supaya saya banyak membaca buku. Dan beliau juga suka meminjamkan bukunya untuk saya fotocopy. Sampai saat ini saya masih ingat betul kata-kata beliau “Anda ini seharusnya banyak membeli buku jangan membeli lipstik terus”. Hal ini semakin memacu saya untuk serius dalam belajar. Dari beliau juga yang telah memberikan jawaban kenapa saya merasa ada yang kurang , yaitu ibadah.
Selama ini saya memang melupakan ibadah, dari sini saya mulai mencari teman yang bisa memberikan pelajaran agama.
Saya mendatangi pengurus keagamaan di kampus, dan menyatakan ingin belajar membaca Alqur’an. Tapi ini tidak berlangsung lama, mungkin karena penampilan saya waktu itu tidak mencerminkan seorang muslimah, karena pakaian yang saya kenakan pada waktu itu kemeja yang digulung sampai siku dan celana panjang jeans. Saya merasakan bahwa saya tidak diterima baik oleh mereka. Ini membuat trauma bagi saya jika ingat lirikan sinis mereka. Hal tersebut membuat saya melupakan untuk belajar agama. Akhirnya saya putuskan untuk serius belajar dan alhamdulillah dalam lima tahun kuliah dapat saya selesaikan.
Setelah lulus saya merantau kepulau seberang dan bekerja pada perusahaan swasta. Saat itu saya mulai menjalankan ibadah. Dan alhamdulillah saya mendapat seorang suami yang dengan sabar mengajari saya membaca Al-Qur’an dan pengetahuan agama. Setelah kelahiran anak yang pertama kami putuskan bahwa saya konsentrasi mengurus anak dan suami yang bekerja. Awal kelahiran anak saya yang pertama, memang saya sangat menikmati hari-hari saya hanya untuk mengurusi suami dan anak di rumah. Seiring waktu berjalan ada rasa kerinduan untuk bekerja kembali, tapi suami tidak begitu mendukung karena tidak ada yang menjaga anak. Dan suamipun tidak mengijinkan anak untuk diurus pembantu. Sehingga kami sepakat saya boleh kegiatan apa saja asal anak tetap terurus dengan baik. Dari sini saya mulai tergabung dengan kelompok kajian, dan untuk kegiatan sosial saya aktif di PKK dan majelis ta’lim di tempat saya tinggal sekarang. Dari sini saya mulai merubah penampilan dari super cuek menjadi seorang ibu yang dalam kesehariannya berbusana muslimah. Sehingga saya telah membuktikan sendiri sekarang bahwa jilbab sama sekali bukan penghalang bagi ibu-ibu untuk berinteraksi di masyarakat. Ditambah dukungan suami, sehingga semakin membuka pikiran dan wawasan saya. Ceramah, seminar ataupun talk show tidak saya lewatkan begitu saja. Semakin sering saya berinteraksi dan bertemu orang dari berbagai lapisan semakin memotivasi saya dan tidak saya sadari menjadi proses pembelajaran diri.
Sampai kelahiran anak kedua semakin memantapkan hati saya bahwa hidup ini harus di isi dengan pikiran dan kegiatan yang positif. Dengan lahirnya anak kedua ini berarti kebutuhan dan biaya hidup bertambah. Ini mendorong saya untuk bagaimana saya bisa mempunyai penghasilan tanpa mengabaikan anak-anak.
Saya mulai melakukan survei dan mencoba berjualan barang-barang kmoditi, tapi hasil yang saya terima tidak signifikan dan cenderung impas dengan modal yang di keluarkan. Akhirnya saya mencoba makanan siap saji , dan alhamdulillah cukup memberikan income yang lumayan.
Diatas semua, membuktikan bahwa dengan kemauan yang keras dan niat yang ikhlas tidak ada yang tidak bisa kita kerjakan. Sebenarnya tanpa disadari kita mempunyai potensi yang bisa kita gali sesuai kemampuan kita. Dan dari survei membuktikan bahwa suami lebih menyukai istri yang aktif, lincah, dinamis dan produktif tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada salahnya kita mencoba hal yang baru yang dapat mengisi waktu luang kita. Dan perlu di garis bawahi bahwa kita sebagai ibu rumah tangga wajib mencari dana tambahan. Bagaimana, berani menerima tantangan ?

Balikpapan,2004

4/24/2008

Menjadi Wanita Sempurna

Saya bangun jam 05.00 pagi, segera saya ambil air wudlu untuk sholat Subuh di sambung tilawah dua lembar halaman. Setelah selesai biasanya saya segera menyalakan TV yang suaranya sengaja agak keras sehingga saya bisa mendengarkan acara dari dapur sambil menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak. Selesai menyiapkan sarapan giliran memandikan anak - anak. Setelah anak -anak selesai mandi segera saya beri sarapan. Biasanya anak-anak lahap makannya jika masih hangat. Selesai sarapan, persiapan suami untuk berangkat kerja.


Begitulah sebagian rutinitas yang saya jalani sampai saat ini. Kadang ada perasaan yang hilang dari pribadi saya. Bahkan ada sebagian teman yang mengatakan saya bodoh mau menjalani kehidupan seperti itu. Kenapa tidak kau raih cita-cita yang kamu inginkan, begitulah teman-teman menyampaikan pendapatnya.


Saya punya gelar sarjana dan pernah bekerja pada perusahaan swasta di posisi yang cukup menjajikan untuk karier saya. Dan saya seorang pekerja yang tekun dan loyal. Dari sinilah mungkin teman-teman menyesalkan keputusan yang saya ambil. Setelah punya anak, pekerjaan saya lepaskan. Keputusan ini saya ambil agar saya bisa lebih intensif mengurus anak. Saya termasuk orang yang tidak begitu percaya kepada pembantu dalam mengurus anak. Sehingga anak saya urus sendiri. Pada saat itu saya berpikir bahwa saya bisa bekerja kembali jika anak sudah bisa mandiri, namun Allah berkehendak lain. Kembali saya mengandung anak kedua, dari sinilah saya mulai berpikir dan merenung kenapa Allah memilih wanita yang mengandung dan melahirkan anak. Saya sangat mensyukuri atas karunia yang telah diberikan Allah dengan hadirnya dua makhluk kecil yang selalu memberikan kejutan-kejutan dalam kehidupan saya. Kadang mereka bisa membuat saya tertawa,sebaliknya bisa juga membuat saya sedikit jengkel.

Inilah yang mungkin tidak dialami oleh sebagian teman yang hanya mementingkan karier sehingga melupakan untuk menikah dan bereproduksi. Padahal dengan menikah dan mempunyai anak adalah sebuah karunia besar bagi kita untuk menjadi wanita sempurna. Wanita mempunyai organ-organ reproduksi yang memang semua ada fungsinya dan berhak untuk menjalankan fungsinya untuk mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak dengan baik.

Kita boleh berbangga bahwa kita menyandang gelar wanita, karena dari seorang wanita bisa lahir seorang Dokter, Sarjana, Ilmuwan, Cendekiawan, Presiden dan seorang Da’i juga lahir dari rahim wanita. Bisa kita bayangkan betapa besarnya konstribusi seorang wanita dalam melahirkan generasi penerus. InsyaAllah jika anak kita didik dengan baik dan benar serta diberi makan yang halal dan jauhkan dari yang haram akan tumbuh menjadi anak yang sholeh yang akan berbakti pada kedua orang tua dan berbudi luhur.

Jadi keputusan saya untuk menikah dan punya anak tidak salah, gelar sarjana masih bisa saya gunakan untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak. Saya juga masih bisa mencari dana tambahan untuk menyokong kelangsungan rumah tangga. Jangan sampai anak menghalangi kita untuk tetap berkarya. Jadi untuk rekan-rekan perempuan jangan lagi menunda untuk menikah dan mempunyai anak.

Balikpapan,17 Juli 2003

Yuli Wasini Santoso

CINTAI NEGERI DENGAN MEMBERIKAN KONTRIBUSI

Hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri.” Pepatah itulah yang sering diungkapkan oleh orang tua terhadap anaknya yang ingin mencari peruntungan di negeri orang dengan tujuan supaya anaknya mengurungkan niatnya. Yang menjadi pertanyaan adalah masih relevankah pepatah tersebut untuk saat ini ?

Era reformasi yang telah diraih oleh rakyat Indonesia dengan pengorbanan darah pahlawan reformasi telah dinodai dengan reformasi yang kebablasan. Reformasi yang tidak diimbangi dengan mental yang sehat menjadikan rakyat menjadi beringas, sehingga kondisi dalam negeri menjadi kurang kondusif. Di tambah dengan datangnya musibah yang bertubi-tubi melanda negeri kita. Hal ini menyebabkan para investor tidak berani datang ke negeri kita, bahkan yang sudah adapun memutuskan untuk meninggalkan negeri kita. Akibatnya lapangan kerja sempit, PHK terjadi dimana-mana, pengangguran meningkat dan diperparah dengan tingkat kejahatan yang masih tinggi.

Apakah dengan menangis dan meratapi nasib bisa mengembalikan negara kita kembali bangkit dan berjaya? Tentu saja tidak, bahkan kita harus bekerja lebih keras untuk bisa mencapai apa yang diinginkan. Bukankah Allah telah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Ar-Ra’d:11) Mengacu dari ayat ini maka tidak selayaknya kita hanya duduk menunggu nasib. Sebaliknya kita harus segera berbenah diri. Mulailah dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai saat ini,demikian kata Aa Gym yang terkenal dengan 3Mnya.

Kunci untuk menjadi awal kebangkitan adalah apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini, bukanlah menanyakanapa yang telah negara berikan. Sekecil apapun yang kita berikan akan sangat berarti bagi bangsa kita. Dengan dasar itulah maka hendaknya kita mulai kebangkitan dengan niat ikhlas dan tujuan yang jelas. Hendak dibawa kemana negeri ini kalau kita sebagai warga negara cuek saja dengan melihat kondisi yang ada sekarang, ketidak stabilan terjadi di mana-mana, orang-orang sudah melakukan jalan pintas untuk sekedar mempertahankan perut?

Tidak kita pungkiri memang kondisi negeri kita sedang dilanda musibah multi dimensi,tidak hanya bencana alam tapi erosi akhlak juga menjangkit negeri. Hal inilah yang menjadikan penulis prihatin. Sudah waktunya kita renungkan dan mencari solusi terbaik untuk negeri ini. Bukan saatnya lagi saling menyalahkan dan mencari kambing hitam dalam menyikapi segala hal yang telah melanda negeri kita tercinta ini.

Dengan apa kebangkitan bisa tercapai? Tentu saja tidak semudah membalik tangan tapi butuh pengorbanan dan kerja keras. Proses perubahan inipun membutuhkan waktu dan sikap yang bijaksana. Salah satu pilar utama untuk pembaharuan adalah dari dimensi mental atau akhlak. Hal ini penting dan merupakan pondasi seseorang untuk menentukan langkah. Karena akhlak ini bersifat abstrak, tidak terlihat maka nutrisinyapun tidak terlihat yaitu dengan ilmu, ibadah dengan segala aspek dan beramal. Orang yang berilmu dan beriman akan ditinggikan derajatnya oleh Allah.

Untuk melatih akhlak adalah dengan cara belajar mengetahui diri sendiri yaitu mengevaluasi diri. Berikutnya adalah peka pada fenomena disekitar kita. Bisa kita ambil contoh bandingkan mimik muka orang yang tersenyum dan yang tidak. Lebih sedap mana dipandang? Ini hanya contoh yang kecil. Bahkan dengan ilmu bisa merubah wajah seseorang lebih berseri-seri, hal ini sudah dibuktikan lewat penelitian para ahli.

Dengan berilmu dan beriman akan berbanding lurus dengan amalan-amalannya. Tidak berpengaruh dimana seseorang berada baik di negeri sendiri ataupun dinegeri orang. Hal ini bisa kita lihat dengan realita yang ada bahwa banyak dari saudara kita yang mencoba peruntungan kenegeri orang. Namun sayangnya ada sebagian saudara kita yang tidak membekali dirinya dengan ilmu dan iman, akibatnya teraniaya dan hak-haknya terampas.
Bahkan ada yang kembali dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Hal ini tidak akan terjadi kalau kita sudah membekali diri dengan ilmu dan iman. Ibaratnya sedia payung sebelum hujan, menyiapkan diri bahwa hidup tidak sesuai dengan keinginan kita.Tidak ada salahnya kita mencoba peruntungan di negeri orang, bukankah bumi Allah itu luas,tidak hanya di Indonesia saja.

Warga Negara adalah cerminan dari kualitas suatu bangsa. Jadi dengan bekal ilmu dan iman otak kita akan menjadi cerdas, produktifitas tinggi, badan sehat, detak jantung bagus, peredaran darah lancar dan memberi manfaat kepada orang lain. Sekecil apapun perbuatan kita akan dinilai dengan timbangan yang berat Maka pribadi kita akan diperhitungkan dan orang lain tidak akan mempermainkan kita. Harapan penulis adalah tunjukkan harga diri kita sebagai warga negara yang berperadapan, bukankah Negara kita merupakan Negara yang penduduknya muslim terbesar. Walaupun umat islam sedang dalam keadaan lemah, tetapi cahaya islam tetap bertebaran diberbagai tempat. Dan ini sudah cukup menjadi bukti adanya gerakan kebangkitan yang meliputi pola pikir,sikap dan kemauan.

Sudah saatnya kita membuka cakrawala diri untuk dapat meraih ilmu dan iman. Manfaatkanlah informasi dan teknologi semaksimal mungkin sehingga kita dapat mengejar dari ketertinggalan kita. Penulis sangat optimis bahwa Negara kita tidak akan terpuruk selamanya, bukankah ada sunnah roda kehidupan, kadang diatas kadang di bawah. Allah berfirman,”Dan hari-hari itu kami putarkan secara bergantian di antara kalangan manusia.” (Ali Imran:140).

Demikianlah dengan berilmu dan beriman akan menunjukkan kualitas kita sebagai warga Negara Indonesia yang patut diperhitungkan. Apalagi hidup dinegeri orang sudah selayaknya kita tunjukkan keilmuan dan keimanan kita tanpa mengabaikan jiwa nasionalis. Hal ini penting dimanapun kita berada, dalam kondisi apapun tunjukkan ke Indonesia -an kita yang beradab, berilmu dan beriman. Hal ini penting karena sebagai warga Negara Indonesia yang baik kita wajib berperan serta meningkatkan citra positif Indonesia di luar negeri. Sikap inipun bisa menjadi ajang promosi agar para investor dan pelancong tidak takut untuk mengunjungi negeri kita, sehingga denyut kebangkitan negara kita kembali berdetak. Saatnya sekarang kita mendulang emas di negeri orang. Jadi alangkah bagusnya kalau hujan emas di negeri orang, kita ambil emasnya bawa pulang, tidak ada lagi hujan batu. Kita bangun negeri kita tercinta untuk diwariskan ke anak cucu kita. Amin.

Yuli Wasini Santoso

4/10/2008

Salam Kenal


Assalamu'alaikum
Salam kenal, saya Yuli ibu dari dua putra dan dua putri. Saat ini saya ikut suami di Malaysia. Pekerjaan saya adalah pemeran utama film Oshin alias ibu rumah tangga tanpa pembantu ... tau khan? Praktis all in semua saya buat. Asyik lho tapi ada sebel-sebelnya dikit he..he!! Biasa ... ribut sama anak-anak. O, iya ... saya asli dari Kota Pelajar yang terkenal dengan gudegnya.
Aduh berhenti dulu ya ... baby saya bangun!! :P

Wassalam
Yuli