MENGGALI POTENSI DIRI
Saya sedang mengupas bawang sambil menjawab pertanyaan anak saya yang pertama. Dia berumur tiga tahun setengah dan dalam masa explorasi, sehingga semua hal yang dilihat dan dirasakan selalu ditanyakan. “Ibu, buat apa sih ini?” dia bertanya sambil tangannya juga ikut mengupas bawang. “Buat bikin bumbu nak!”, jawab saya.
Anak saya kedua berumur satu setengah tahun, sedang tidur siang. Sengaja saya memasak menunggu anak ke dua tidur.
Sambil memasak pikiran saya menerawang di masa anak-anak, dan menjelang dewasa. Saya dulu seorang pribadi yang cuek dan perpikiran praktis.Dari masa anak-anak sampai saya dewasa yang namanya di dapur paling anti. Orang tua juga termasuk golongan orang tua yang tidak ambil pusing, entah saya mau membantu pekerjaan dirumah atau tidak beliau tidak pernah marah.. Hal itu berlanjut sampai saya dewasa . Yang saya lakukan saat itu belajar, kumpul dengan teman-teman dan saya juga tergabung dalam group tari kreasi baru. Sehingga waktu sering dipakai untuk latihan dan manggung. Pada waktu itu dalam pikiran saya bahwa hidup itu untuk bersenang-senang, dan ibadah pun sering terabaikan. Seiring waktu berjalan menginjak semester dua, tugas-tugas kuliah mulai menyita waktu sehingga saya jarang berkumpul dengan teman-teman lagi. Akhirnya teman-teman pun mulai menjauh dan tidak pernah menghubungi lagi. Disini saya mulai merasakan kekosongan batin dan hati mulai gundah.
Pada semester empat kehidupan saya mulai bergeser dari yang hura-hura dan cuek berubah dengan keseriusan belajar. Saya tergolong mahasiswi yang rajin dan rapi catatan kuliah sehingga banyak teman yang memanfaatkan dengan meminjam catatan. Kehidupan saya pun mulai tertata, tapi kenapa batin ini masih merasa ada yang kurang ?.
Ada satu dosen yang punya perhatian khusus dengan saya, dosen itu selalu memberi saran supaya saya banyak membaca buku. Dan beliau juga suka meminjamkan bukunya untuk saya fotocopy. Sampai saat ini saya masih ingat betul kata-kata beliau “Anda ini seharusnya banyak membeli buku jangan membeli lipstik terus”. Hal ini semakin memacu saya untuk serius dalam belajar. Dari beliau juga yang telah memberikan jawaban kenapa saya merasa ada yang kurang , yaitu ibadah.
Selama ini saya memang melupakan ibadah, dari sini saya mulai mencari teman yang bisa memberikan pelajaran agama.
Saya mendatangi pengurus keagamaan di kampus, dan menyatakan ingin belajar membaca Alqur’an. Tapi ini tidak berlangsung lama, mungkin karena penampilan saya waktu itu tidak mencerminkan seorang muslimah, karena pakaian yang saya kenakan pada waktu itu kemeja yang digulung sampai siku dan celana panjang jeans. Saya merasakan bahwa saya tidak diterima baik oleh mereka. Ini membuat trauma bagi saya jika ingat lirikan sinis mereka. Hal tersebut membuat saya melupakan untuk belajar agama. Akhirnya saya putuskan untuk serius belajar dan alhamdulillah dalam lima tahun kuliah dapat saya selesaikan.
Setelah lulus saya merantau kepulau seberang dan bekerja pada perusahaan swasta. Saat itu saya mulai menjalankan ibadah. Dan alhamdulillah saya mendapat seorang suami yang dengan sabar mengajari saya membaca Al-Qur’an dan pengetahuan agama. Setelah kelahiran anak yang pertama kami putuskan bahwa saya konsentrasi mengurus anak dan suami yang bekerja. Awal kelahiran anak saya yang pertama, memang saya sangat menikmati hari-hari saya hanya untuk mengurusi suami dan anak di rumah. Seiring waktu berjalan ada rasa kerinduan untuk bekerja kembali, tapi suami tidak begitu mendukung karena tidak ada yang menjaga anak. Dan suamipun tidak mengijinkan anak untuk diurus pembantu. Sehingga kami sepakat saya boleh kegiatan apa saja asal anak tetap terurus dengan baik. Dari sini saya mulai tergabung dengan kelompok kajian, dan untuk kegiatan sosial saya aktif di PKK dan majelis ta’lim di tempat saya tinggal sekarang. Dari sini saya mulai merubah penampilan dari super cuek menjadi seorang ibu yang dalam kesehariannya berbusana muslimah. Sehingga saya telah membuktikan sendiri sekarang bahwa jilbab sama sekali bukan penghalang bagi ibu-ibu untuk berinteraksi di masyarakat. Ditambah dukungan suami, sehingga semakin membuka pikiran dan wawasan saya. Ceramah, seminar ataupun talk show tidak saya lewatkan begitu saja. Semakin sering saya berinteraksi dan bertemu orang dari berbagai lapisan semakin memotivasi saya dan tidak saya sadari menjadi proses pembelajaran diri.
Sampai kelahiran anak kedua semakin memantapkan hati saya bahwa hidup ini harus di isi dengan pikiran dan kegiatan yang positif. Dengan lahirnya anak kedua ini berarti kebutuhan dan biaya hidup bertambah. Ini mendorong saya untuk bagaimana saya bisa mempunyai penghasilan tanpa mengabaikan anak-anak.
Saya mulai melakukan survei dan mencoba berjualan barang-barang kmoditi, tapi hasil yang saya terima tidak signifikan dan cenderung impas dengan modal yang di keluarkan. Akhirnya saya mencoba makanan siap saji , dan alhamdulillah cukup memberikan income yang lumayan.
Diatas semua, membuktikan bahwa dengan kemauan yang keras dan niat yang ikhlas tidak ada yang tidak bisa kita kerjakan. Sebenarnya tanpa disadari kita mempunyai potensi yang bisa kita gali sesuai kemampuan kita. Dan dari survei membuktikan bahwa suami lebih menyukai istri yang aktif, lincah, dinamis dan produktif tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada salahnya kita mencoba hal yang baru yang dapat mengisi waktu luang kita. Dan perlu di garis bawahi bahwa kita sebagai ibu rumah tangga wajib mencari dana tambahan. Bagaimana, berani menerima tantangan ?
Balikpapan,2004
4/28/2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment