Hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri.” Pepatah itulah yang sering diungkapkan oleh orang tua terhadap anaknya yang ingin mencari peruntungan di negeri orang dengan tujuan supaya anaknya mengurungkan niatnya. Yang menjadi pertanyaan adalah masih relevankah pepatah tersebut untuk saat ini ?
Era reformasi yang telah diraih oleh rakyat Indonesia dengan pengorbanan darah pahlawan reformasi telah dinodai dengan reformasi yang kebablasan. Reformasi yang tidak diimbangi dengan mental yang sehat menjadikan rakyat menjadi beringas, sehingga kondisi dalam negeri menjadi kurang kondusif. Di tambah dengan datangnya musibah yang bertubi-tubi melanda negeri kita. Hal ini menyebabkan para investor tidak berani datang ke negeri kita, bahkan yang sudah adapun memutuskan untuk meninggalkan negeri kita. Akibatnya lapangan kerja sempit, PHK terjadi dimana-mana, pengangguran meningkat dan diperparah dengan tingkat kejahatan yang masih tinggi.
Apakah dengan menangis dan meratapi nasib bisa mengembalikan negara kita kembali bangkit dan berjaya? Tentu saja tidak, bahkan kita harus bekerja lebih keras untuk bisa mencapai apa yang diinginkan. Bukankah Allah telah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Ar-Ra’d:11) Mengacu dari ayat ini maka tidak selayaknya kita hanya duduk menunggu nasib. Sebaliknya kita harus segera berbenah diri. Mulailah dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai saat ini,demikian kata Aa Gym yang terkenal dengan 3Mnya.
Kunci untuk menjadi awal kebangkitan adalah apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini, bukanlah menanyakanapa yang telah negara berikan. Sekecil apapun yang kita berikan akan sangat berarti bagi bangsa kita. Dengan dasar itulah maka hendaknya kita mulai kebangkitan dengan niat ikhlas dan tujuan yang jelas. Hendak dibawa kemana negeri ini kalau kita sebagai warga negara cuek saja dengan melihat kondisi yang ada sekarang, ketidak stabilan terjadi di mana-mana, orang-orang sudah melakukan jalan pintas untuk sekedar mempertahankan perut?
Tidak kita pungkiri memang kondisi negeri kita sedang dilanda musibah multi dimensi,tidak hanya bencana alam tapi erosi akhlak juga menjangkit negeri. Hal inilah yang menjadikan penulis prihatin. Sudah waktunya kita renungkan dan mencari solusi terbaik untuk negeri ini. Bukan saatnya lagi saling menyalahkan dan mencari kambing hitam dalam menyikapi segala hal yang telah melanda negeri kita tercinta ini.
Dengan apa kebangkitan bisa tercapai? Tentu saja tidak semudah membalik tangan tapi butuh pengorbanan dan kerja keras. Proses perubahan inipun membutuhkan waktu dan sikap yang bijaksana. Salah satu pilar utama untuk pembaharuan adalah dari dimensi mental atau akhlak. Hal ini penting dan merupakan pondasi seseorang untuk menentukan langkah. Karena akhlak ini bersifat abstrak, tidak terlihat maka nutrisinyapun tidak terlihat yaitu dengan ilmu, ibadah dengan segala aspek dan beramal. Orang yang berilmu dan beriman akan ditinggikan derajatnya oleh Allah.
Untuk melatih akhlak adalah dengan cara belajar mengetahui diri sendiri yaitu mengevaluasi diri. Berikutnya adalah peka pada fenomena disekitar kita. Bisa kita ambil contoh bandingkan mimik muka orang yang tersenyum dan yang tidak. Lebih sedap mana dipandang? Ini hanya contoh yang kecil. Bahkan dengan ilmu bisa merubah wajah seseorang lebih berseri-seri, hal ini sudah dibuktikan lewat penelitian para ahli.
Dengan berilmu dan beriman akan berbanding lurus dengan amalan-amalannya. Tidak berpengaruh dimana seseorang berada baik di negeri sendiri ataupun dinegeri orang. Hal ini bisa kita lihat dengan realita yang ada bahwa banyak dari saudara kita yang mencoba peruntungan kenegeri orang. Namun sayangnya ada sebagian saudara kita yang tidak membekali dirinya dengan ilmu dan iman, akibatnya teraniaya dan hak-haknya terampas.
Bahkan ada yang kembali dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Hal ini tidak akan terjadi kalau kita sudah membekali diri dengan ilmu dan iman. Ibaratnya sedia payung sebelum hujan, menyiapkan diri bahwa hidup tidak sesuai dengan keinginan kita.Tidak ada salahnya kita mencoba peruntungan di negeri orang, bukankah bumi Allah itu luas,tidak hanya di Indonesia saja.
Warga Negara adalah cerminan dari kualitas suatu bangsa. Jadi dengan bekal ilmu dan iman otak kita akan menjadi cerdas, produktifitas tinggi, badan sehat, detak jantung bagus, peredaran darah lancar dan memberi manfaat kepada orang lain. Sekecil apapun perbuatan kita akan dinilai dengan timbangan yang berat Maka pribadi kita akan diperhitungkan dan orang lain tidak akan mempermainkan kita. Harapan penulis adalah tunjukkan harga diri kita sebagai warga negara yang berperadapan, bukankah Negara kita merupakan Negara yang penduduknya muslim terbesar. Walaupun umat islam sedang dalam keadaan lemah, tetapi cahaya islam tetap bertebaran diberbagai tempat. Dan ini sudah cukup menjadi bukti adanya gerakan kebangkitan yang meliputi pola pikir,sikap dan kemauan.
Sudah saatnya kita membuka cakrawala diri untuk dapat meraih ilmu dan iman. Manfaatkanlah informasi dan teknologi semaksimal mungkin sehingga kita dapat mengejar dari ketertinggalan kita. Penulis sangat optimis bahwa Negara kita tidak akan terpuruk selamanya, bukankah ada sunnah roda kehidupan, kadang diatas kadang di bawah. Allah berfirman,”Dan hari-hari itu kami putarkan secara bergantian di antara kalangan manusia.” (Ali Imran:140).
Demikianlah dengan berilmu dan beriman akan menunjukkan kualitas kita sebagai warga Negara Indonesia yang patut diperhitungkan. Apalagi hidup dinegeri orang sudah selayaknya kita tunjukkan keilmuan dan keimanan kita tanpa mengabaikan jiwa nasionalis. Hal ini penting dimanapun kita berada, dalam kondisi apapun tunjukkan ke Indonesia -an kita yang beradab, berilmu dan beriman. Hal ini penting karena sebagai warga Negara Indonesia yang baik kita wajib berperan serta meningkatkan citra positif Indonesia di luar negeri. Sikap inipun bisa menjadi ajang promosi agar para investor dan pelancong tidak takut untuk mengunjungi negeri kita, sehingga denyut kebangkitan negara kita kembali berdetak. Saatnya sekarang kita mendulang emas di negeri orang. Jadi alangkah bagusnya kalau hujan emas di negeri orang, kita ambil emasnya bawa pulang, tidak ada lagi hujan batu. Kita bangun negeri kita tercinta untuk diwariskan ke anak cucu kita. Amin.
Yuli Wasini Santoso
4/24/2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment